site hit counter Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya | Dalupa Aceh Jaya Bukti Sejarah
Selamat Datang di Website Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya

Dalupa Aceh Jaya Bukti Sejarah

Kategori : Adat dan Budaya Rabu, 20 Juli 2016 - Oleh admin

Hari mulai sore, aku masih saja sibuk berputar-putar di rumah itu, persiapan untuk malam 40 hari meninggal Ibundaku mulai rampung, semua masakan siap saji telah disediakan untuk para tamu undangan, orang kampung datang dan pulang dari rumah itu, terlihat oleh ku seorang kakek yang berumur setengah abad itu duduk sendiri berseder di dinding rumah, dengan sebatang rokok “rukok on”rokok daun/rokok lintingperlahan dia menghisapnya, kakek yang berusia sekitar 70 tahun itu tidak asing lagi bagiku,

Hari mulai sore, aku masih saja sibuk berputar-putar di rumah itu, persiapan untuk malam 40 hari meninggal Ibundaku mulai rampung, semua masakan siap saji telah disediakan untuk para tamu undangan, orang kampung datang dan pulang dari rumah itu, terlihat oleh ku seorang kakek yang berumur setengah abad itu duduk sendiri berseder di dinding rumah, dengan sebatang rokok “rukok on”rokok daun/rokok linting perlahan dia menghisapnya, kakek yang berusia sekitar 70 tahun itu tidak asing lagi bagiku,

nek din namanya, sesaat ku menghampirinya dan menyapa “Peuhaba cik?” apa kabar kakek “cik” adalah bahasa orang aceh jaya yang sering di kenal dengan kakek, spontan dia menjawabku “get alhamdulillah” baik alhamdulillah, sesaat ku mulai membuka pembicaraan dengannya, “sang mangat bakong kunengnyoe” sepertinya enak tembakau kuning ini kataku padanya “cie rasa ilee saboh“ suruhnya, aku mulai menggulug rokok itu dan ku hisap. Ternyata memang pas dengan seleraku terasa samporna mild di mulutku.

Sekilas ku bertanya lagi padanya, “ pajan neu ili cik?”kapan turun dari kampung kakek “ili” biasa dikenal dengan turun dari gunung kepesisir, “ ban trok siatnyoe” hasratku banyak, ingin bertanya tentang sejarah-sejarah lama,karna ku tau beliau adalah orang yang tau tentang sejarah -sejarah khususnya sejarah aceh jaya, aku bertanya tentang DALUPA, dalupa merupakan salah satu peran yang dimainkan dalam seni Rapa I, khususnya rapa I debus aceh jaya, yang bertempat di gampong panggong. Dalupa adalah panggilan untuk seorang pengawal pada jaman dulu yang memakai topeng dengan bahan “pureh jok” daun lidi enau yang saat sekarang di perani oleh orang yang masuk kedalam baju terbuat dari “pureh jok” daun lidi enau tersebut.

“jadi kiban asal mula cerita dalupanyan cik” jadi dari mana asal mula cerita dalupa itu kek tanyaku ingin tau “jadi menoe cerita jih, dalupanya awai that adalah pari” pari adalah mahluk yang hidup didunia ini akan tetapi kita tidak mampu melihat dan menerawang dengan kasat mata dia ada didunia ini dan hanya saja tak ada yang mampu melihatnya “masa dile tgk sabe, geujak dari nanggroe lua kenoe u aceh, dan trok kenoe u panggong” masa dulu tgk sabee, atau raja sebee merupakan seorang kepala suku masa itu di kampung tersebut yang datang dari negeri luar dan menetap di panggong. Panggong adalah nama kampung yang masih ada sampai sekarang, yang asal mula panggong adalah pada saat itu didaerah tersebut “panggong sekarang”ada sebatang pohon yang besar yang tumbang akan tetapi tidak sampai ketanah, di tahan oleh pohon laen yang bercabang sehingga terpanggung/tertupang, oleh karena itu desa itu dinamakan dengan panggung.

“Raja sabe watee nyan teungeh geujak, geu lewat si bak, bak kaye raya, geu dengeu na ureng bie salem, Assalamua’laiku?”pada saat itu tgk sabee/raja sebee sedang berjalan melewati sebatang pohon besar dan mendengar ada seorang yang memberi salam Assalamu’alaiku. Beliau menjawab “wa’alaikumsalam” sekilas beliau menoleh kebelakang, akan tetapi tak ada seorang pun yang ada didekatnya, sehingga tgk sabee heran siapa yang memberi salam barusan, sesaat kemudian terdengar suara yang berkata “lon na di sampeng dron” saya ada disamping anda, “meunyeu kemeung kalon lon, tulong cok kupiyah/tangkulok indatu lon bineh bak kayee rayanyan dan neu pakek” jika anda ingin melihat saya, tolong ambilkan kopiyah atau pecie kakek saya dekat pohon besar itu dan pakailah, sesaat tgk sabee mendekati pohon besar itu dan melihat ada sebuah gulungan yang berbentuk peci atau bundelan yang terbuat dari “pureh jok” atau daun lidi enau dan beliau memakainya, setelah beliau memakai pecie “kupiah” tersebut beliau melihat kearah suara itu dan melihat sesosok orang tinggi besar yang berdiri didekatnya, “mulai jinoe lon ikot dron” mulai sekarang saya pengikut anda ungkapnya. Sehingga setiap perjalanan beliua pasti ada pengawalnya dan akhirnya menjadi seorang manusia biasa. “menan cerita jih” begitu ceritanya kata nek din yang biasa dikenal dengan geuchik din panggong,“hingga jinoe kamoe sepakat meucok ceritanya dengan meu peuget dalupa dengan bajee dari pureh joknyan” ujarnya dan kamoe meu dalam rapa,I daboh kamoe, yang khas Aceh Jaya dari desa panggong” hingga sekarang kami dengan teman-teman lain sepakat mengambil dari cerita tersebut dengan membuat dalupa yang kami mainkan dalam rapa.i debus kami yang khas aceh jaya dari desa panggong. tambahnya.

Sesaatku tercengang memerhatikan ceritanya, begitu banyak sejarah yang tersimpan dalam diri seorang nek din, sehingga dengan mudah beliau menceritakan sejarah dalupa tersebut, tanpa ada buka di tangannya. Sekarang sejenak kita merenungkan dalam diri kita masing-masing sebagai anak cucu dari peradaban dulu,akankah cerita tersebut kita tau? Apakah kita bisa tau tentang sejarah tersebut jika kelak ada pertanyaan dari anak cucu kita? Oleh karena itu ada kata harus kita ingat “ ureung aceh bek tuwoe keu sejarah” orang aceh jangan sampai lupa pada sejarah.