site hit counter Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya | Kemristekdikti Dorong Nilam Tembus Pasar Eropa
Download Syarat dan Lampiran Penerimaan CPNS Aceh Jaya 2018 disini

Kemristekdikti Dorong Nilam Tembus Pasar Eropa

Kategori : Pemerintahan Rabu, 12 September 2018 - Oleh admin

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mendorong nilam menjadi salah satu produk unggulan inovasi daerah. Tanaman Nilam yang diberi nilai tambah akan menghasilkan bahan pendukung parfum yang diyakini diminati oleh kalangan produsen parfum di Eropa, khususnya di Paris, Prancis.
Untuk bisa menembus pasar ekspor, nilam harus diberi nilai tambah. Sehingga, harga jualnya menjadi lebih tinggi dan bisa memberikan kesejahteraan bagi petani.
Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti, Djumain Appe, mengatakan, klaster inovasi Nilam Aceh diinisiasi oleh Kemristekdikti sejak tahun 2017, dibuat untuk mendorong peningkatan ekonomi suatu kawasan.
"Sumber pendapatan ekonomi daerah perlu mendapat perhatian, difasilitasi insentif sehingga bisa mengembangkan produk unggulan untuk industri," kata Djumain di sela-sela Rapat Koordinasi Pengembangan Klaster Inovasi Nilam Aceh, di Jakarta, Senin (10/9).
Djumain mengatakan, jika sebelumnya petani nilam miskin dan hasil produksi yang rendah, maka salah satu tujuan klaster inovasi adalah mengangkat agar masyarakat memiliki nilai lebih dari menanam nilam. "Untuk ke depan, kita ingin nilam menjadi sumber pendapatan utama masyarakat Aceh Jaya," ucapnya.
Menurutnya, untuk menjadikan nilai produk bernilai tambah perlu sinergi usaha pemerintah daerah, perguruan tinggi, swasta dan komunitas. Tanpa itu, sulit untuk mewujudkan hadirnya produk unggulan daerah.
Nilam di Aceh Jaya dikenal di dunia karena kualitasnya bagus. Bahkan, produsen parfum di Paris pun meminatinya. Hanya saja nilam tersebut tidak diekspor langsung oleh Indonesia. Nilam Aceh tersebut dibeli Singapura dan Malaysia untuk diolah menjadi bahan intermediate, lalu mereka jual kepada kalangan produsen parfum di Paris.
Dengan sentuhan inovasi, Djumain berharap, nilam di Indonesia bisa dibuat produk turunannya seperti untuk kosmetik atau produk kesehatan lainnya sehingga harga jualnya pun tinggi.
Nilam di Aceh Jaya dikenal sejak zaman Belanda. Kemudian pada tahun 1998, nilam Aceh sempat berjaya karena harganya naik dari Rp 25.000 hingga Rp 250.000 per kilogram (kg) menjadi lebih dari Rp 1 juta. Namun, ketika banyak orang menanam nilam, ada tantangan yakni hama penyakit yang membuat daun nilam melengkung dan tidak menghasilkan minyak.
Saat ini, Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala sedang mendorong bibit unggul nilam yang akan diujicobakan di lahan sekitar 2 hektar (ha). Selain itu, bibit tahan hama, inovasi lain dalam pengolahan nilam akan dibuat, sehingga tidak lagi sekedar menjual bahan baku atau bahan mentah.

(esy/beritasatu/Humas Setdakab)