.

Dorong Kemandirian Dayah dengan Agro Ekonomi

Kategori : Ekonomi Jumat, 18 Oktober 2019 - Oleh admin

 

Aceh Jaya - Pemerintah Aceh terus berupaya mendorong kemandirian dayah. Melalui Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Pemerintah Aceh berupaya melibatkan dayah dan seluruh santrinya dalam ekonomi kerakyatan, terutama dalam bidang agro ekonomi atau agro industri.

Hal tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah, kepada awak media usai melakukan panen perdana ubi kayu seluas 20 hektar milik Dayah Darun Nizham, di Pasie Raya, Kamis (17/10/2019).


“Melalui Dinas Pendidikan Dayah, kami terus berupaya melibatkan dayah-dayah dan seluruh santrinya pada ekonomi kerakyatan, terutama di bidang agro ekonomi atau agro industri. Hari ini, di Dayah Darun Nizham kita fokus pada komoditi ubi kayu. Jika ini berhasil, Insya Allah akan terus kita kembangkan sembari mencoba komoditi lainnya,” ujar Nova.

Plt Gubernur menegaskan, selain dengan Dinas Pendidikan Dayah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga terus berupaya mencoba memproduksi hilir.

“Bukan hanya bahan baku tetapi juga produksi tepung tapiokanya. Ada saudara kita di Aceh Timur yang sudah mendirikan pabrik Tepung Tapioka dan bekerjasama dengan Bank Aceh Syari’ah. Perusahaan tersebut mampu menampung hasil ubi kayu masyarakat dengan luas tanam hingga 500 hektar,” kata Nova.

Dengan luas tanam yang baru seluas 20 hektar, Nova menegaskan bahwa potensi pengembangan kebun dayah masih sangat besar. “Peluangnya masih sangat besar untuk terus dikembangkan. Hal yang membanggakan, ternyata hasil produksinya lebih dari yang diperkirakan. Ini tentu menandakan bahwa tanah di Pasi Raya ini cocok untuk dikembangkan komoditi ubi kayu,” imbau Nova.

 

Plt Gubernur optimis, pengembangan kebun ubi kayu dan potensi agro industri menjadi pintu masuk bagi kemandirian dayah, sehingga dayah di Aceh mampu bangkit secara mandiri.

“Saya optimis, jika ini berhasil, Darun Nizam akan menjadi Dayah percontohan, menjadi pilot projek kemandirian Dayah karena dari hasil kebunnya telah mampu membiayai dirinya sendiri, membangun dirinya sendiri dan mengembangkan dayah tanpa bergantung dengan pihak lain,” ujar Nova.

 

Sementara itu, terkait dengan keluhan pimpinan Dayah Darun Nizam Abati Muslim HK, terkait tingginya biaya pengangkutan ubi kayu ke pabrik tepung tapioka di Aceh Timur, Nova menjelaskan, salah satu hal yang mendesak dilakukan adalah dengan melakukan hilirisasi di Aceh Jaya.

“Pabrik tepung tapioka seperti di Peureulak harus ada di Aceh Jaya. Dekatnya lokasi pabrik akan memangkas biaya transportasi. Hal ini tentu menambah pendapatan bagi dayah maupun masyarakat petani. Insya Allah, nanti saya akan bicarakan dengan Kadin Aceh, Bank Aceh Syari’ah,” kata Plt Gubernur.

 

Nova menjelaskan, jika nilai investasi pembagunan pabrik tepung tapioka di bawah Rp 2 miliar, maka dirinya akan berupaya sesegera mungkin mencari investor atau pengusaha lokal untuk membangun pabrik tersebut di Aceh Jaya. “Jika nilai investasinya di bawah Rp 2 miliar, Insya Allah akan segera kita bangun tapi tentu yang skala kecil.

Pemerintah akan mencari pengusaha yang bersedia membangun pabrik, dan akan kita bantu pembiayaannya di Bank Aceh Syari’ah. Namun, jika investasi menengah atau di atas Rp 10 miliar, tentu kita harus mencari pengusaha lain,” pungkas Nova.

[humas.acehprov]